Title: Buku Harian Zlata: Jeritan
Seorang Anak Bosnia
Original Title: Le Journal De Zlata
Author: Zlata Filipović
Published by Gramedia Pustaka Utama, August 1994
209 pages
209 pages
Translator: Rahartati Bambang
Language: Indonesian
ISBN: 979-605-072-2
Zlata Filipović (waktu itu) adalah
seorang anak yang tinggal di Sarajevo. Zlata mulai menulis buku harian ketika
ia hampir menginjak usia sebelas tahun. Dalam beberapa tulisannya yang pertama,
ia menceritakan kehidupannya sehari-hari yang menyenangkan: pergi sekolah;
bertemu dengan sahabat-sahabatnya; mengikuti kursus piano; berlibur ke tempat
peristirahatan keluarga; dan sebagainya. Namun, tak lama kemudian, perang mulai
berkecamuk di Bosnia-Herzegovina. Sejak saat itulah, kehidupan Zlata dan
orang-orang yang dicintainya diliputi kemuraman. “Perang yang tidak pilih-pilih
korban” telah merenggut masa kanak-kanak Zlata.
Kebencian Zlata pada perang dan politik
yang kotor tergambarkan dengan jelas dalam tulisan-tulisannya. Ia marah pada
politik yang mengada-adakan perbedaan antara Sebia, Kroasia, dan Muslim,
akibatnya adalah perang yang keji. Zlata tidak memahami mengapa
perbedaan-perbedaan itu harus ditunjukkan. Selama ini, ia bergaul dengan
keluarga, sahabat-sahabat, dan tetangga yang merupakan perpaduan dari ketiga
pihak yang bertikai. Zlata sendiri mengaku tidak pernah tahu siapa di antara
mereka yang orang Serbia, siapa yang orang Kroasia, dan siapa yang Muslim. Itu
semua karena ia tidak peduli akan suku bangsa dan agama mereka. Bagi Zlata,
yang terpenting adalah perbuatan mereka, seperti yang dituliskannya pada
tanggal 19 November 1992, “Yang baik akan menjadi sahabat kami,dan yang buruk
akan kami jauhi. Di antara mereka yang baik terdapat orang-orang Serbia,
kroasia, dan Muslim. Di antara mereka yang buruk, terdapat pula orang Serbia,
Kroasia, dan Muslim.” (hal. 111).
☆☆☆☆☆☆
Membaca Buku Harian Zlata, saya seolah
tidak sedang membaca jurnal yang ditulis oleh seorang anak yang berusia 11-13
tahun, tapi seseorang yang usianya lebih tua dari itu. Tidak hanya pilihan
kata-katanya yang “mencengangkan”, tapi juga karena Zlata memiliki kepedulian
yang mendalam terhadap orang lain. Pemahamannya akan penderitaan orang lain ini
mungkin karena kecerdasannya atau mungkin karena keadaanlah yang memaksanya
untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
Buku ini ditulis oleh seorang anak yang
sama sekali tidak memiliki kepentingan akan perang yang terjadi. Dengan
caranya, Zlata menunjukkan bahwa perang hanya mengakibatkan penderitaan dan
kesedihan. Bagian yang terburuk adalah sebagian besar yang paling menderita dan
bersedih akibat perang adalah mereka tidak memahami mengapa perang harus
terjadi. Menurut saya, Buku Harian Zlata lebih cocok dibaca oleh mereka yang
masih menganggap bahwa perang adalah jalan keluar. Mungkin, buku ini dapat
menunjukkan kepada mereka betapa menderitanya orang-orang yang tidak berdosa
yang terjebak dalam peperangan.
Namun, ada hal yang membingungkan ketika
membaca buku ini. Berhubung buku ini merupakan buku harian, ada banyak nama
yang disebutkan di dalamnya. Tentunya, nama-nama itu adalah tokoh, keluarga,
sahabat, dan tetangga Zlata. Lama-kelamaan, saya jadi bingung sendiri manakah
yang anggota keluarga, mana tetangga, dan sebagainya. Memang, ada sebuah daftar
yang memuat nama-nama dan menjelaskan secara singkat tentang mereka. Namun,
tidak semua nama yang ditulis Zlata dicantumkan ke dalam daftar tersebut. Oleh
karena itu, saya harus membolak-balik halaman mencari keterangan tentang sebuah
nama. Kalau saya sedang malas atau kurang beruntung, saya membiarkan diri saya
berada di kegelapan tanpa petunjuk tentang siapa sebenarnya orang yang
diceritakan oleh Zlata. Misalnya, di jurnal bertanggal 5 Februari 1993,
disebutkan seseorang bernama Mirza. Karena saya tidak menemukan nama itu di
tulisan-tulisan sebelumnya, sampai sekarang saya masih bertanya-tanya
mengenainya.
Walaupun banyak yang memuji kemampuan
Zlata dalam menceritakan kehidupannya dalam perang, ada juga yang menyangsikan
Zlata. Dalam sebuah tulisannya, Zlata bercerita bahwa ia mengambil tokoh Anne
Frank sebagai modelnya. Zlata memang tidak ingin bernasib sama seperti idolanya
itu. Namun, beberapa orang meyakini bahwa Zlata banyak mencontoh Anne Frank
dalam menulis buku harian. Oleh karena itu, mereka meragukan apakah tulisan
Zlata yang “mencengangkan” itu benar-benar cerminan kemampuan Zlata yang luar
biasa atau sekedar tulisan versi baru dari Anne Frank. Saya sendiri tidak
terlalu mempermasalahkan apakah Zlata mencontoh Anne Frank atau tidak. Menurut
saya, wajar apabila buku-buku yang dibaca seseorang mempengaruhi tidak hanya
pemikirannya, tetapi juga pola menulisnya. Hal yang penting bagi saya adalah
buku ini dapat menggambarkan suasana perang melalui mata seorang anak.
ジャカルタ, 2014年12月23日

No comments:
Post a Comment