Tuesday, December 23, 2014

Buku Harian Zlata: Jeritan Seorang Anak Bosnia






Title: Buku Harian Zlata: Jeritan Seorang Anak Bosnia
Original Title: Le Journal De Zlata
Author: Zlata Filipović
Published by Gramedia Pustaka Utama, August 1994
209 pages
Translator: Rahartati Bambang
Language: Indonesian
ISBN: 979-605-072-2


Zlata Filipović (waktu itu) adalah seorang anak yang tinggal di Sarajevo. Zlata mulai menulis buku harian ketika ia hampir menginjak usia sebelas tahun. Dalam beberapa tulisannya yang pertama, ia menceritakan kehidupannya sehari-hari yang menyenangkan: pergi sekolah; bertemu dengan sahabat-sahabatnya; mengikuti kursus piano; berlibur ke tempat peristirahatan keluarga; dan sebagainya. Namun, tak lama kemudian, perang mulai berkecamuk di Bosnia-Herzegovina. Sejak saat itulah, kehidupan Zlata dan orang-orang yang dicintainya diliputi kemuraman. “Perang yang tidak pilih-pilih korban” telah merenggut masa kanak-kanak Zlata.
Kebencian Zlata pada perang dan politik yang kotor tergambarkan dengan jelas dalam tulisan-tulisannya. Ia marah pada politik yang mengada-adakan perbedaan antara Sebia, Kroasia, dan Muslim, akibatnya adalah perang yang keji. Zlata tidak memahami mengapa perbedaan-perbedaan itu harus ditunjukkan. Selama ini, ia bergaul dengan keluarga, sahabat-sahabat, dan tetangga yang merupakan perpaduan dari ketiga pihak yang bertikai. Zlata sendiri mengaku tidak pernah tahu siapa di antara mereka yang orang Serbia, siapa yang orang Kroasia, dan siapa yang Muslim. Itu semua karena ia tidak peduli akan suku bangsa dan agama mereka. Bagi Zlata, yang terpenting adalah perbuatan mereka, seperti yang dituliskannya pada tanggal 19 November 1992, “Yang baik akan menjadi sahabat kami,dan yang buruk akan kami jauhi. Di antara mereka yang baik terdapat orang-orang Serbia, kroasia, dan Muslim. Di antara mereka yang buruk, terdapat pula orang Serbia, Kroasia, dan Muslim.” (hal. 111).

☆☆☆☆☆☆

Membaca Buku Harian Zlata, saya seolah tidak sedang membaca jurnal yang ditulis oleh seorang anak yang berusia 11-13 tahun, tapi seseorang yang usianya lebih tua dari itu. Tidak hanya pilihan kata-katanya yang “mencengangkan”, tapi juga karena Zlata memiliki kepedulian yang mendalam terhadap orang lain. Pemahamannya akan penderitaan orang lain ini mungkin karena kecerdasannya atau mungkin karena keadaanlah yang memaksanya untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

Buku ini ditulis oleh seorang anak yang sama sekali tidak memiliki kepentingan akan perang yang terjadi. Dengan caranya, Zlata menunjukkan bahwa perang hanya mengakibatkan penderitaan dan kesedihan. Bagian yang terburuk adalah sebagian besar yang paling menderita dan bersedih akibat perang adalah mereka tidak memahami mengapa perang harus terjadi. Menurut saya, Buku Harian Zlata lebih cocok dibaca oleh mereka yang masih menganggap bahwa perang adalah jalan keluar. Mungkin, buku ini dapat menunjukkan kepada mereka betapa menderitanya orang-orang yang tidak berdosa yang terjebak dalam peperangan.

Namun, ada hal yang membingungkan ketika membaca buku ini. Berhubung buku ini merupakan buku harian, ada banyak nama yang disebutkan di dalamnya. Tentunya, nama-nama itu adalah tokoh, keluarga, sahabat, dan tetangga Zlata. Lama-kelamaan, saya jadi bingung sendiri manakah yang anggota keluarga, mana tetangga, dan sebagainya. Memang, ada sebuah daftar yang memuat nama-nama dan menjelaskan secara singkat tentang mereka. Namun, tidak semua nama yang ditulis Zlata dicantumkan ke dalam daftar tersebut. Oleh karena itu, saya harus membolak-balik halaman mencari keterangan tentang sebuah nama. Kalau saya sedang malas atau kurang beruntung, saya membiarkan diri saya berada di kegelapan tanpa petunjuk tentang siapa sebenarnya orang yang diceritakan oleh Zlata. Misalnya, di jurnal bertanggal 5 Februari 1993, disebutkan seseorang bernama Mirza. Karena saya tidak menemukan nama itu di tulisan-tulisan sebelumnya, sampai sekarang saya masih bertanya-tanya mengenainya.

Walaupun banyak yang memuji kemampuan Zlata dalam menceritakan kehidupannya dalam perang, ada juga yang menyangsikan Zlata. Dalam sebuah tulisannya, Zlata bercerita bahwa ia mengambil tokoh Anne Frank sebagai modelnya. Zlata memang tidak ingin bernasib sama seperti idolanya itu. Namun, beberapa orang meyakini bahwa Zlata banyak mencontoh Anne Frank dalam menulis buku harian. Oleh karena itu, mereka meragukan apakah tulisan Zlata yang “mencengangkan” itu benar-benar cerminan kemampuan Zlata yang luar biasa atau sekedar tulisan versi baru dari Anne Frank. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan apakah Zlata mencontoh Anne Frank atau tidak. Menurut saya, wajar apabila buku-buku yang dibaca seseorang mempengaruhi tidak hanya pemikirannya, tetapi juga pola menulisnya. Hal yang penting bagi saya adalah buku ini dapat menggambarkan suasana perang melalui mata seorang anak.


ジャカルタ, 20141223


Note: Reposted from my old blog

No comments:

Post a Comment

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...