Title:
100 Jam
Authors:
Amalia Suryani & Andryan Suhardi
Published
by PT Gramedia Pustaka Utama, August 2007
232
pages
Language:
Indonesian
ISBN:
978-979-22-3138-0
Award/Nomination:
Adikarya IKAPI (2008)
“Namanya Jasmine. Jasmine saja,
tanpa nama belakang. Jasmine pernah bertanya kenapa namanya hanya terdiri atas
satu kata. Sambil menjawabnya, Bu Meynar memetik sekuntum melati di kebun
panti. Sebab dengan satu kata itu saja
namamu sudah menyiratkan banyak makna termasuk sejarahnya. Jasmine
tersenyum puas mendengarnya.” (hal. 11).
Itulah
yang menjadi paragraf pembuka dalam bab perkenalan tokoh utama buku ini,
Jasmine. Jasmine menjadi penghuni panti asuhan semenjak ia masih berusia satu
hari. Ia ditinggalkan begitu saja di Stasiun Senen oleh ibunya karena ia lahir
di luar hubungan pernikahan. Oleh Bu Meynar, pemilik sekaligus pengelola panti,
ia diberi nama Jasmine karena pada saat ia tiba, melati di kebun panti sedang
mekar-mekarnya.
Selain
bahwa kelahirannya tidak diinginkan oleh ibunya, hal lain yang diketahui
tentang bayi yang ditelantarkan itu adalah bahwa ia dilahirkan pada tanggal 29
Februari. Walaupun lahir di tanggal yang hanya muncul setiap empat tahun
sekali, Jasmine merayakan ulang tahunnya setiap tahun dengan cara yang cukup
aneh, yaitu dengan menambahkan tanggal 29 di belakang tanggal 28 Februari dan
mencoret tanggal 1 Maret. Aneh, bukan? Maksud saya, bukankah tanggal 29
Februari itu menambah jumlah hari, kok ini malah menggantikan tanggal 1 Maret?
Tahun
ini, tanggal 29 Februari akan terasa lebih bermakna lagi bagi Jasmine. Bukan
sembarang ulang tahun yang akan ia rayakan, tapi ulang tahun yang ketujuh
belas. Di usia itu, berarti Jasmine sudah bisa [dan harus] punya KTP. Usia
tujuh belas tahun itu pulalah yang menjadi tiket Jasmine untuk bisa keluar dari
panti. Namun, sebelum bisa keluar dari panti, Jasmine harus bisa mendapatkan
pekerjaan karena kalau tidak, Bu Meynar tidak akan mengijinkan Jasmine keluar
dari panti.
Maka,
jadilah Jasmine pergi ke sana-sini untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya, ia
nekad menjadi tukang ojek payung di depan mall. Akibat ‘pekerjaan’nya itu,
Jasmine jadi sering terlambat pulang ke panti dan terpaksa berbohong kepada Bu
Meynar. Ketika Bu Meynar mengetahui hal tersebut, ia menghukum Jasmine dengan
menyuruhnya mengajar selama 100 jam di sebuah sekolah di kolong jalan tol.
Dengan
rasa terpaksa, Jasmine menjalani hukuman tersebut. Ia memaksa mengajar dua
kelas agar hukumannya cepat selesai. Namun, rasa terpaksa itu lama-lama hilang
berganti dengan rasa senang untuk pergi mengajar. Bertemu dengan
murid-muridnya, anak-anak kurang beruntung yang ternyata luar biasa menjadi
salah satu penyebabnya. Namun, yang paling dinanti-nantikan Jasmine sebetulnya
adalah bertemu dengan Arya, sesama pengajar, yang membuat hati Jasmine
berbunga-bunga sejak kali pertama bertemu.
Novel
ini menyajikan sebuah tema yang menarik, yaitu pendidikan bagi anak-anak tidak
mampu. Namun, tema itu tersingkirkan oleh kisah-kisah yang meliputi karakter
utamanya—percintaan dan persaingan untuk membuktikan siapa yang terbaik. Hingga
akhir cerita, kisah tentang anak-anak tidak mampu dan sekolah kolong yang
memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pendidikan yang cukup layak
terasa hanya sebagai bumbu penyedap.
Alur
ceritanya pun terasa lurus-lurus saja. Sejak awal, pembaca dapat menerka ke
mana arah cerita mengalir dan bagaimana kisah akan berakhir. Tidak adanya
elemen kejutan dalam cerita semakin membuat buku ini terasa amat datar. Jika
diibaratkan sebagai perjalanan, buku ini bagaikan perjalanan rutin menuju
sekolah atau kantor tanpa adanya perubahan yang berarti: ritual yang sama, rute
yang sama, kemacetan yang sama di titik yang sama, pemandangan yang sama, dan
sebagainya.
Karakter-karakternya
pun gagal menempati tempat istimewa di perhatian saya. Jasmine, si tokoh utama,
adalah seorang yang cerdas, berjiwa bebas, dan pemberani. Sayangnya, hal itu
tak membuatnya menonjol dibandingkan beberapa tokoh dalam buku lain yang
memiliki karakteristik yang serupa. Arya, sampai sekarang saya merasa tidak
jelas apa kelebihannya sehingga ia harus menjadi tokoh utama pria. Kemudian,
ada Tya, rival abadi dari Jasmine. Nah, Tya ini adalah kutub yang berlawanan
dari Jasmine—ambisius, dingin, dan tidak bersahabat. Sedari awal, Tya
digambarkan sedemikian rupa sehingga pembaca dipaksa memihak Jasmine sebagai
jagoan wanita. Namun, menjelang akhir—melalui sebuah persaingan yang
antiklimatis, menurut saya—Tya menunjukkan bahwa ternyata ia masih memiliki
hati. Lalu bagaimana dengan karakter lain? Saya tidak begitu ingat—mereka mudah
dilupakan.
Kemudian,
kita lihat hubungan Jasmine dengan Arya. Pertemuan pertama mereka sudah membuat
akhir kisah mereka menjadi jelas—sebuah hubungan yang melibatkan romansa,
walaupun dijelaskan di akhir cerita kalau mereka tidak berpacaran. Dimulai
dengan Jasmine yang merasakan ketertarikan sejak pandangan pertama, sampai
teman-teman wanita Arya yang digambarkan sebagai figur-figur yang annoying.
Marsha, yang entah memiliki hubungan apa dengan Arya digambarkan sebagai
karakter yang clingy dan posesif, walaupun saya tidak begitu yakin dengan
penggambaran itu karena saya melihat perilaku Marsha tidak sedemikian
mengganggu sehingga ia harus pergi. Linda, sesama rekan relawan, disebut
sebagai orang yang “sangat ramah, menarik, dan pasti pintar”. Sejak awal
bertemu, Jasmine sudah merasa insecure dengan kehadiran Linda. Ia merasa Linda
meremehkan kemampuannya. Menurut saya, ketidakyakinan Linda terhadap Jasmine
yang mengajar dua kelas sekaligus masihlah wajar, toh Jasmine memang tidak
memiliki pengalaman mengajar sebelumnya. Mungkin karena penggambaran
karakternya itu atau karena ia kurang percaya pada kemampuan Jasmine mengajar
dua kelas sekaligus, Linda tidak pernah kedengaran lagi hingga akhir cerita.
Dengan peran yang penting sebagai relawan di sekolah kolong, ia menghilang
bagaikan asap. Semua ini seolah mengesampingkan fakta bahwa peran relawan di
sebuah kegiatan sosial amatlah penting. Seolah-olah, sekolah itu akan dapat
berjalan dengan adanya Jasmine dan Arya semata (dan herannya, buku ini memang
mengisahkan seperti itu!). Selain itu, dengan tersingkirnya Marsha dan Linda,
hal ini seolah menunjukkan bahwa hanya Jasmine-lah satu-satunya perempuan yang
boleh dekat-dekat dengan Arya.
Lalu,
bagaimana hubungan Jasmine dengan yang lainnya? Yang pasti, Jasmine adalah
seseorang yang mudah berteman dan mengambil hati orang-orang yang ditemuinya.
Tak perlu waktu lama hingga murid-muridnya menyukai dirinya. Tak perlu waktu
lama juga untuk membuat salah satu murid sekolah kolong—yang sebaya dengannya,
by the way—untuk jatuh cinta kepadanya. Namun, Arya tidak perlu khawatir. Toh
saingan cintanya itu hanyalah seorang anak jalanan yang bersekolah di sekolah
alternatif. Lagipula, Bagas, anak itu, juga sadar diri. Ia tidak mau
mengejar-ngejar Jasmine mengingat siapa dirinya dan mengingat dengan siapa ia
bersaing—Arya si mahasiswa. See? Jasmine and Arya are meant to be together!
*sarcasm*
Dengan
banyaknya hal-hal klise dan mudah ditebak seperti itu, saya bersyukur di buku
ini terselip kisah tentang Dul dan ayahnya. Bapak dan anak ini rupanya tidak
asing dengan kekerasan dan kriminalitas. Hubungannya keduanya bukanlah partners
in crime—atau family in crime?—tetapi bagaikan bos penjahat dan anak buahnya.
Si bapak yang terlibat obat-obatan terlarang akhirnya ditangkap polisi
sementara Dul berlari sambil berteriak bahwa ia sudah memaafkan ayah yang telah
menjerumuskannya ke lembah hitam. Yang istimewa dari secuil kisah Dul ini
adalah adegan kilas balik yang menyentuh yang mengambarkan hubungan Dul dan
sang ayah ketika ia masih kecil, ketika mereka berdua bermain ‘layangan’.
Secara
keseluruhan, saya tidak menikmati buku ini. Segalanya terkesan disederhanakan
dan tidak menarik. Walapun demikian, bagi para penggemar teenlit yang ingin
membaca buku yang dibumbui dengan tema yang masih jarang diangkat, mungkin
novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.
ボゴール、2012年11月16日

