Wednesday, December 24, 2014

The Setting Sun








Title: The Setting Sun
Original Title: Shayō (斜陽)
Author: Osamu Dazai
Published by the Charles E. Tuttle Company, Inc., 1997
(First Tuttle edition: 1981)
175 pages
Translator: Donald Keene
Language: English
ISBN: 4-8053-0474-X

The Setting Sun berlatar belakang suasana setelah Perang Dunia II. Kala itu, Kazuko dan keluarganya menghadapi berbagai persoalan. Sebenarnya, masalah mulai datang sejak sepuluh tahun sebelumnya ketika ayahnya meninggal dunia. Adik laki-lakinya, Naoji, mulai berkenalan dengan obat-obatan di sekolahnya dan menjadi pecandu. Akibat kecanduannya itu, Naoji memiliki banyak hutang. Untuk membayar hutang-hutang adiknya, Kazuko menggunakan uang pemberian suaminya dan menjual perhiasan-perhiasan yang dimilikinya. Hal itu kemudian memicu perceraian Kazuko dengan suaminya—selain karena pengakuan Kazuko bahwa ia mencintai pria lain. Setelah bercerai, Kazuko kembali ke rumah orangtuanya.

Selama masa perang, ia tinggal berdua dengan ibunya sementara Naoji bertugas di Pasifik. Selama itu, masalah tak kunjung selesai menimpa mereka. Sampai akhirnya, mereka harus menjual rumah dan berpisah dengan para pelayan yang telah setia menemani mereka selama bertahun-tahun. Kazuko dan ibunya pindah ke sebuah rumah kecil di pedesaan. Di tempat tinggal yang baru, persoalan yang menimpa keluarga itu semakin menjadi-jadi. Rumah mereka sempat terbakar akibat kecerobohan Kazuko. Naoji yang baru kembali dari Pasifik pun ternyata membawa persoalan lain. Ia memang telah lepas dari pengaruh obat-obatan, tetapi sebagai gantinya, ia menjadi seorang pecandu alkohol.

Selain itu, latar belakang keluarga Kazuko yang merupakan keluarga bangsawan tampaknya ikut memperumit keadaan. Setelah perang, keadaan perekonomian memburuk. Belum lagi, pada masa-masa  itu Jepang berubah dari negara feudal menjadi negara industri. Kazuko dan sang ibu yang tidak biasa bekerja harus mencari cara untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Paman Kazuko yang bertindak sebagai pelindung mereka setelah kematian ayah Kazuko sempat ingin menikahkan Kazuko dengan seseorang agar kehidupan mereka terjamin. Namun, usul itu ditolak oleh Kazuko sendiri. Kazuko dan ibunya lebih memilih untuk menjual barang-barang yang mereka miliki. Puncak persoalan terjadi ketika sang ibu sakit parah hingga kemudian meninggal dunia.

Kazuko tidak hanya menghadapi masalah yang berkaitan dengan keluarganya. Ia juga memiliki masalah pribadi yang berkaitan dengan perasaannya terhadap seorang novelis, Uehara Jiro. Kazuko mengenal sang novelis ketika Naoji masih menjadi pecandu obat-obatan. Mr. Uehara adalah seorang kenalan Naoji yang juga ikut membantunya kala itu. Kazuko memang hanya sekali bertemu dengan Mr. Uehara. Namun, ia tidak bisa menahan perasaannya kepada pria yang sudah berkeluarga itu. Kazuko berkali-kali mengirim surat kepadanya, tetapi tidak pernah dibalas. Hingga pada suatu hari, Kazuko memutuskan untuk pergi menemuinya. Di saat yang hampir bersamaan, Naoji memutuskan untuk melakukan bunuh diri.

☆☆☆☆☆☆

Buku ini sarat suasana muram dan kesedihan. Namun, tidak dikarenakan emosi berlebihan dan umbar air mata di mana-mana seperti yang banyak terlihat di sinetron-sinetron. Begitu juga dalam menggambarkan perasaan dan hubungan Kazuko dengan Mr. Uehara. Tidak ada kata-kata sakti “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu” atau “Kita akan selalu bersama” seperti yang biasa ada dalam kisah-kisah cinta. Bukankah orang Jepang dikenal tidak suka menunjukkan emosi secara berlebihan? Suasana sedih dalam buku ini dibangun melalui keindahan kata-kata dan gaya penceritaannya. Buku ini seolah bukan sebuah novel, tetapi puisi yang sangat panjang. Dalam hal ini, tidak hanya sang penulis, Osamu Dazai tetapi juga sang penerjemah, Donald Keene yang patut diberi penghargaan.

Hubungan antara Kazuko dan ibunya juga menarik untuk diikuti. Dari interaksi mereka, dapat diketahui bahwa mereka saling menyayangi dan mengerti satu sama lain. Bahkan, Kazuko seolah memuja sang ibu yang dianggapnya makhluk suci dan terhormat. Walaupun demikan, terlihat juga bahwa ada semacam formalitas dalam hubungan mereka. Tidak ada ungkapan sayang secara terbuka dari satu sama lain. Pembaca yang berasal dari budaya Barat mungkin menganggap hubungan Kazuko dengan sang ibu sangatlah kaku dan formal. Tapi, menurut saya, hubungan mereka lebih familiar bagi kita orang Indonesia. Masih banyak di antara kita yang tidak menunjukkan perasaan sayang kita secara terbuka kepada orang lain, baik kepada keluarga sendiri maupun kepada orang lain.

Banyaknya penggunaan kilas balik dalam buku ini kurang saya sukai. Bisa dikatakan, di setiap bab ada saja kilas balik yang terjadi baik dikemukakan oleh Kazuko secara langsung maupun dari surat-surat Naoji. Kilas balik tersebut memperlambat alur cerita yang memang sudah lambat.

Hal lain yang mungkin kurang disukai pembaca adalah akhir cerita yang menggantung. Sebagian besar orang menginginkan akhir yang bahagia, sebagian lagi tidak keberatan dengan akhir yang sedih. Hanya sebagian kecil yang puas dengan akhir yang menggantung. Seperti di akhir buku The Setting Sun, tidak jelas seperti apakah nasib Kazuko selanjutnya setelah ia ditinggal mati oleh ibu dan adiknya. Justru di akhir cerita, diungkapkan bahwa Kazuko baru memulai perjuangannya untuk terus hidup, melakukan sebuah “revolusi”, begitu ia menyebutnya. Menurut saya, akhir yang terbuka seperti itu membuat pembaca lebih bebas untuk menginterpretasi cerita.

Satu hal yang membuat saya bingung adalah kebiasaan Osamu Dazai untuk “mendeskripsikan peristiwa kecil (misalnya telur ular yang dibakar atau bengkak di tangan sang ibu) untuk menunjukkan peristiwa yang lebih besar”. Jujur, saya kurang mengerti maksudnya. Menurut pemahaman saya, bengkak di tangan sang ibu berkaitan dengan penyakit yang dideritanya. Sedangkan mengenai telur ular yang dibakar, saya masih kurang paham. Apakah hal ini berkaitan dengan takhayul atau kepercayaan setempat? Entahlah.


ジャカルタ, 20141224


Note: Reposted from my old blog

Tuesday, December 23, 2014

Buku Harian Zlata: Jeritan Seorang Anak Bosnia






Title: Buku Harian Zlata: Jeritan Seorang Anak Bosnia
Original Title: Le Journal De Zlata
Author: Zlata Filipović
Published by Gramedia Pustaka Utama, August 1994
209 pages
Translator: Rahartati Bambang
Language: Indonesian
ISBN: 979-605-072-2


Zlata Filipović (waktu itu) adalah seorang anak yang tinggal di Sarajevo. Zlata mulai menulis buku harian ketika ia hampir menginjak usia sebelas tahun. Dalam beberapa tulisannya yang pertama, ia menceritakan kehidupannya sehari-hari yang menyenangkan: pergi sekolah; bertemu dengan sahabat-sahabatnya; mengikuti kursus piano; berlibur ke tempat peristirahatan keluarga; dan sebagainya. Namun, tak lama kemudian, perang mulai berkecamuk di Bosnia-Herzegovina. Sejak saat itulah, kehidupan Zlata dan orang-orang yang dicintainya diliputi kemuraman. “Perang yang tidak pilih-pilih korban” telah merenggut masa kanak-kanak Zlata.
Kebencian Zlata pada perang dan politik yang kotor tergambarkan dengan jelas dalam tulisan-tulisannya. Ia marah pada politik yang mengada-adakan perbedaan antara Sebia, Kroasia, dan Muslim, akibatnya adalah perang yang keji. Zlata tidak memahami mengapa perbedaan-perbedaan itu harus ditunjukkan. Selama ini, ia bergaul dengan keluarga, sahabat-sahabat, dan tetangga yang merupakan perpaduan dari ketiga pihak yang bertikai. Zlata sendiri mengaku tidak pernah tahu siapa di antara mereka yang orang Serbia, siapa yang orang Kroasia, dan siapa yang Muslim. Itu semua karena ia tidak peduli akan suku bangsa dan agama mereka. Bagi Zlata, yang terpenting adalah perbuatan mereka, seperti yang dituliskannya pada tanggal 19 November 1992, “Yang baik akan menjadi sahabat kami,dan yang buruk akan kami jauhi. Di antara mereka yang baik terdapat orang-orang Serbia, kroasia, dan Muslim. Di antara mereka yang buruk, terdapat pula orang Serbia, Kroasia, dan Muslim.” (hal. 111).

☆☆☆☆☆☆

Membaca Buku Harian Zlata, saya seolah tidak sedang membaca jurnal yang ditulis oleh seorang anak yang berusia 11-13 tahun, tapi seseorang yang usianya lebih tua dari itu. Tidak hanya pilihan kata-katanya yang “mencengangkan”, tapi juga karena Zlata memiliki kepedulian yang mendalam terhadap orang lain. Pemahamannya akan penderitaan orang lain ini mungkin karena kecerdasannya atau mungkin karena keadaanlah yang memaksanya untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

Buku ini ditulis oleh seorang anak yang sama sekali tidak memiliki kepentingan akan perang yang terjadi. Dengan caranya, Zlata menunjukkan bahwa perang hanya mengakibatkan penderitaan dan kesedihan. Bagian yang terburuk adalah sebagian besar yang paling menderita dan bersedih akibat perang adalah mereka tidak memahami mengapa perang harus terjadi. Menurut saya, Buku Harian Zlata lebih cocok dibaca oleh mereka yang masih menganggap bahwa perang adalah jalan keluar. Mungkin, buku ini dapat menunjukkan kepada mereka betapa menderitanya orang-orang yang tidak berdosa yang terjebak dalam peperangan.

Namun, ada hal yang membingungkan ketika membaca buku ini. Berhubung buku ini merupakan buku harian, ada banyak nama yang disebutkan di dalamnya. Tentunya, nama-nama itu adalah tokoh, keluarga, sahabat, dan tetangga Zlata. Lama-kelamaan, saya jadi bingung sendiri manakah yang anggota keluarga, mana tetangga, dan sebagainya. Memang, ada sebuah daftar yang memuat nama-nama dan menjelaskan secara singkat tentang mereka. Namun, tidak semua nama yang ditulis Zlata dicantumkan ke dalam daftar tersebut. Oleh karena itu, saya harus membolak-balik halaman mencari keterangan tentang sebuah nama. Kalau saya sedang malas atau kurang beruntung, saya membiarkan diri saya berada di kegelapan tanpa petunjuk tentang siapa sebenarnya orang yang diceritakan oleh Zlata. Misalnya, di jurnal bertanggal 5 Februari 1993, disebutkan seseorang bernama Mirza. Karena saya tidak menemukan nama itu di tulisan-tulisan sebelumnya, sampai sekarang saya masih bertanya-tanya mengenainya.

Walaupun banyak yang memuji kemampuan Zlata dalam menceritakan kehidupannya dalam perang, ada juga yang menyangsikan Zlata. Dalam sebuah tulisannya, Zlata bercerita bahwa ia mengambil tokoh Anne Frank sebagai modelnya. Zlata memang tidak ingin bernasib sama seperti idolanya itu. Namun, beberapa orang meyakini bahwa Zlata banyak mencontoh Anne Frank dalam menulis buku harian. Oleh karena itu, mereka meragukan apakah tulisan Zlata yang “mencengangkan” itu benar-benar cerminan kemampuan Zlata yang luar biasa atau sekedar tulisan versi baru dari Anne Frank. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan apakah Zlata mencontoh Anne Frank atau tidak. Menurut saya, wajar apabila buku-buku yang dibaca seseorang mempengaruhi tidak hanya pemikirannya, tetapi juga pola menulisnya. Hal yang penting bagi saya adalah buku ini dapat menggambarkan suasana perang melalui mata seorang anak.


ジャカルタ, 20141223


Note: Reposted from my old blog

Tuesday, November 18, 2014

Like Embracing Water




Pertama kali melihat Twinkle Twinkle di perpustakaan dan membacanya dengan sangat cepat karena waktu yang mendesak, I couldn't help but falling in love with the story. Makanya, ketika saya kembali ke perpustakaan, saya langsung meminjamnya supaya bisa benar-benar membacanya dan lebih menghayati ceritanya. Tapi, sampai sekarang—lebih dari dua minggu setelah saya meminjamnya, saya belum mencapai bab kedua dari buku ini. Bahkan, saya mengulang bab satu karena saya tidak begitu ingat akan apa yang telah saya baca—dan untuk mendapatkan mood to go on reading this book. Masalahnya, setiap kali saya sudah menyiapkan waktu untuk membaca buku ini, pasti ada saja yang menjadi kendala. Akhirnya, saya malah merasa tidak tenang membaca dan bahkan berhenti sama sekali. Kenapa, ya ketika saya benar-benar ingin membaca satu persatu halaman demi meresapi ceritanya, yang saya dapatkan justru sebaliknya? Meminjam judul bab pertama dari buku ini, saya merasa seakan-akan sedang memeluk air.


ジャカルタ, 20141218

Wednesday, October 15, 2014

The Books That Stay With Me--In Some Way or Another

Just a tagging game for fun (I was tagged by a friend via FB).

List 10 books that have stayed with you in some way. Don't take more than a few minutes and don't think too hard - they don't have to be "great" works, just ones that have touched you. Tag 10 friends including me (so I can see your list too).

1.    Botchan oleh Natsume Soseki.
Buku ini ‘nempel’ sekali dengan saya. Sampai sekarang, saya sudah baca tiga edisi buku ini: terjemahan bahasa Inggris oleh Sasaki Umeji dan oleh Joel Cohn, serta terjemahan bahasa Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama.

2.    Buku Harian Zlata oleh Zlata Filipovic.
Waktu saya masih SD, ibu saya memasukkan buku ini di antara komik-komik yang ingin saya beli. Buku ini sempat saya telantarkan hingga terlupakan selama bertahun-tahun. Kalau tidak salah, baru saya baca ketika saya SMP. Buku ini sukses mendorong saya menulis buku harian. Yes, diary!

3.    Serial Malory Towers oleh Enid Blyton.
Serial ini adalah semacam peralihan kesukaan membaca saya dari komik menjadi novel

4.    Serial Goosebumps oleh R.L. Stine.
Jaman SD, hampir semua teman sekelas saya membaca buku ini. Saya jelas ikutan, dong! Buku ini juga jadi alasan lain untuk ke toko buku karena kalau hanya untuk beli komik, mana boleh!

5.    No Longer Human oleh Dazai Osamu.
“In the way that most men fail to see their own cruelty, Yozo had not noticed his gentleness and his capacity for love.” Donald Keene dalam Translator’s Note (hal.9)
       The Setting Sun oleh Dazai Osamu.
Sukaaa sekali dengan bagian Moonflower Journal.

6.    To Kill a Mockingbird oleh Harper Lee.

7.    Beberapa buku Agatha Christie seperti Pembunuhan ABC dan And There Were None.
“Buku orang dewasa” yang saya baca sejak saya SD :)

8.    Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.
Saya ingat sewaktu SMA, ketika pelajaran Bahasa Indonesia, guru mendiktekan Robohnya Surau Kami kepada para murid dan kami menulis ulang cerita tersebut di buku catatan. Padahal akan lebih kalau para murid diberi tugas membaca dan diskusi.

9.    Harry Potter oleh J.K. Rowling.
“Penanda sejarah” bahwa saya bisa baca novel bahasa Inggris :) Favorit saya adalah The Prisoner of Azkaban. Saya belum baca semua serinya, sih...

10.  Komik Sailor Moon oleh Takeuchi Naoko.
Saya tumbuh besar bersama komik ini! Tapi sayang, sebagian koleksi saya sudah banyak yang hilang.


ジャカルタ, 20141015

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...