Title: The Setting Sun
Original Title: Shayō (斜陽)
Author: Osamu Dazai
Published by the Charles E. Tuttle Company,
Inc., 1997
(First Tuttle edition: 1981)
175 pages
(First Tuttle edition: 1981)
175 pages
Translator: Donald Keene
Language: English
ISBN: 4-8053-0474-X
The Setting Sun berlatar belakang suasana
setelah Perang Dunia II. Kala itu, Kazuko dan keluarganya menghadapi berbagai
persoalan. Sebenarnya, masalah mulai datang sejak sepuluh tahun sebelumnya
ketika ayahnya meninggal dunia. Adik laki-lakinya, Naoji, mulai berkenalan
dengan obat-obatan di sekolahnya dan menjadi pecandu. Akibat kecanduannya itu,
Naoji memiliki banyak hutang. Untuk membayar hutang-hutang adiknya, Kazuko
menggunakan uang pemberian suaminya dan menjual perhiasan-perhiasan yang
dimilikinya. Hal itu kemudian memicu perceraian Kazuko dengan suaminya—selain
karena pengakuan Kazuko bahwa ia mencintai pria lain. Setelah bercerai, Kazuko
kembali ke rumah orangtuanya.
Selama masa perang, ia tinggal berdua
dengan ibunya sementara Naoji bertugas di Pasifik. Selama itu, masalah tak
kunjung selesai menimpa mereka. Sampai akhirnya, mereka harus menjual rumah dan
berpisah dengan para pelayan yang telah setia menemani mereka selama
bertahun-tahun. Kazuko dan ibunya pindah ke sebuah rumah kecil di pedesaan. Di
tempat tinggal yang baru, persoalan yang menimpa keluarga itu semakin
menjadi-jadi. Rumah mereka sempat terbakar akibat kecerobohan Kazuko. Naoji
yang baru kembali dari Pasifik pun ternyata membawa persoalan lain. Ia memang
telah lepas dari pengaruh obat-obatan, tetapi sebagai gantinya, ia menjadi
seorang pecandu alkohol.
Selain itu, latar belakang keluarga
Kazuko yang merupakan keluarga bangsawan tampaknya ikut memperumit keadaan.
Setelah perang, keadaan perekonomian memburuk. Belum lagi, pada masa-masa itu Jepang berubah dari negara feudal menjadi
negara industri. Kazuko dan sang ibu yang tidak biasa bekerja harus mencari
cara untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Paman Kazuko yang bertindak
sebagai pelindung mereka setelah kematian ayah Kazuko sempat ingin menikahkan
Kazuko dengan seseorang agar kehidupan mereka terjamin. Namun, usul itu ditolak
oleh Kazuko sendiri. Kazuko dan ibunya lebih memilih untuk menjual
barang-barang yang mereka miliki. Puncak persoalan terjadi ketika sang ibu
sakit parah hingga kemudian meninggal dunia.
Kazuko tidak hanya menghadapi masalah
yang berkaitan dengan keluarganya. Ia juga memiliki masalah pribadi yang
berkaitan dengan perasaannya terhadap seorang novelis, Uehara Jiro. Kazuko
mengenal sang novelis ketika Naoji masih menjadi pecandu obat-obatan. Mr.
Uehara adalah seorang kenalan Naoji yang juga ikut membantunya kala itu. Kazuko
memang hanya sekali bertemu dengan Mr. Uehara. Namun, ia tidak bisa menahan
perasaannya kepada pria yang sudah berkeluarga itu. Kazuko berkali-kali
mengirim surat kepadanya, tetapi tidak pernah dibalas. Hingga pada suatu hari,
Kazuko memutuskan untuk pergi menemuinya. Di saat yang hampir bersamaan, Naoji
memutuskan untuk melakukan bunuh diri.
☆☆☆☆☆☆
Buku ini sarat suasana muram dan
kesedihan. Namun, tidak dikarenakan emosi berlebihan dan umbar air mata di
mana-mana seperti yang banyak terlihat di sinetron-sinetron. Begitu juga dalam
menggambarkan perasaan dan hubungan Kazuko dengan Mr. Uehara. Tidak ada
kata-kata sakti “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu” atau “Kita akan selalu
bersama” seperti yang biasa ada dalam kisah-kisah cinta. Bukankah orang Jepang
dikenal tidak suka menunjukkan emosi secara berlebihan? Suasana sedih dalam
buku ini dibangun melalui keindahan kata-kata dan gaya penceritaannya. Buku ini
seolah bukan sebuah novel, tetapi puisi yang sangat panjang. Dalam hal ini,
tidak hanya sang penulis, Osamu Dazai tetapi juga sang penerjemah, Donald Keene
yang patut diberi penghargaan.
Hubungan antara Kazuko dan ibunya juga
menarik untuk diikuti. Dari interaksi mereka, dapat diketahui bahwa mereka
saling menyayangi dan mengerti satu sama lain. Bahkan, Kazuko seolah memuja
sang ibu yang dianggapnya makhluk suci dan terhormat. Walaupun demikan,
terlihat juga bahwa ada semacam formalitas dalam hubungan mereka. Tidak ada
ungkapan sayang secara terbuka dari satu sama lain. Pembaca yang berasal dari
budaya Barat mungkin menganggap hubungan Kazuko dengan sang ibu sangatlah kaku
dan formal. Tapi, menurut saya, hubungan mereka lebih
familiar bagi kita orang Indonesia. Masih banyak di antara kita yang tidak
menunjukkan perasaan sayang kita secara terbuka kepada orang lain, baik kepada
keluarga sendiri maupun kepada orang lain.
Banyaknya penggunaan kilas balik dalam
buku ini kurang saya sukai. Bisa dikatakan, di setiap bab ada saja kilas balik
yang terjadi baik dikemukakan oleh Kazuko secara langsung maupun dari
surat-surat Naoji. Kilas balik tersebut memperlambat alur cerita yang memang
sudah lambat.
Hal lain yang mungkin kurang disukai
pembaca adalah akhir cerita yang menggantung. Sebagian besar orang menginginkan
akhir yang bahagia, sebagian lagi tidak keberatan dengan akhir yang sedih.
Hanya sebagian kecil yang puas dengan akhir yang menggantung. Seperti di akhir
buku The Setting Sun, tidak jelas seperti apakah nasib Kazuko selanjutnya
setelah ia ditinggal mati oleh ibu dan adiknya. Justru di akhir cerita,
diungkapkan bahwa Kazuko baru memulai perjuangannya untuk terus hidup,
melakukan sebuah “revolusi”, begitu ia menyebutnya. Menurut saya, akhir yang
terbuka seperti itu membuat pembaca lebih bebas untuk menginterpretasi cerita.
Satu hal yang membuat saya bingung adalah
kebiasaan Osamu Dazai untuk “mendeskripsikan peristiwa kecil (misalnya telur
ular yang dibakar atau bengkak di tangan sang ibu) untuk menunjukkan peristiwa
yang lebih besar”. Jujur, saya kurang mengerti maksudnya. Menurut pemahaman
saya, bengkak di tangan sang ibu berkaitan dengan penyakit yang dideritanya.
Sedangkan mengenai telur ular yang dibakar, saya masih kurang paham. Apakah hal
ini berkaitan dengan takhayul atau kepercayaan setempat? Entahlah.
ジャカルタ, 2014年12月24日
Note:
Reposted from my old blog


