Monday, May 29, 2017

What I Talk About When I Talk About Running





Title: What I Talk About When I Talk About Running
Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto
Author: Haruki Murakami
Publisher: Penerbit Bentang, May 2016
(first edition, April 2016)
Vi + 198 pages
Language: Indonesian
Translator: Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti
ISBN: 978-602-291-086-2


What I Talk About When I Talk About Running adalah sebuah memoir yang ditulis oleh Haruki Murakami. Di sini, ia menulis sebagai seorang penulis yang juga seorang pelari. Murakami tidak menulis buku ini sebagai sebuah gerakan untuk mengajak orang-orang untuk berlari. Ia justru menulis hubungan menulis dengan berlari.


Murakami menjadi penulis dimulai sejak usia akhir 20-an. Sebelumnya, ia mengelola sebuah kelab jazz bersama istrinya. Sejak menjadi penulis, ia menyadari ia butuh melakukan kegiatan yang bias menjaga kebugaran tubuhnya—karena, berbeda dengan pandangan umum, menulis perlu kondisi fisik yang prima. Memilih berlari pun bukan tanpa alasan. Berlari tidak perlu teman atau lawan tanding. Juga tidak perlu tempat dan perlengkapan khusus. Jadi, Murakami berpikir bahwa berlari lebih mudah dan praktis daripada berenang atau bermain tenis, misalnya.


Semenjak memutuskan berlari, hampir setiap hari Murakami berlari. Ia pun rutin mengikuti berbagai lomba marathon, triathlon, dan bahkan pernah mengikuti ultramaraton (lari 100 km).



Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dalam buku ini Murakami banyak mengaitkan menulis dengan berlari. Contohnya, ketika ditanya hal terpenting apa yang harus dimiliki oleh seorang novelis, ia menjawab bakat, fokus, dan daya tahan. Berbeda dengan bakat, fokus dan daya tahan bisa diperoleh dan dipoles melalui latihan. Proses latihan ini mirip dengan berlari untuk menguatkan otot dan membentuk fisik seorang pelari (hal. 89).



“Kebanyakan pelari berlari bukan karena mereka ingin hidup lebih lama, melainkan ingin hidup sepenuh-sepenuhnya. Jika kamu ingin menjalani hidup selama bertahun-tahun, akan jauh lebih baik jika hidup dengan tujuan yang jelas dan hidup sepenuhnya daripada setengah-setengah, dan aku percaya berlari membantumu untuk melakukannya. Memacu dirimu sepenuhnya hingga mencapai batas akhir kekuatanmu itulah esensi berlari, serta metafora untuk menjalani hidup—dan bagiku, juga perumpamaan dalam menulis.” (hal. 93-94)

Tuesday, June 30, 2015

Saga no Gabai Bachan







Title: Nenek Hebat dari Saga
Original Title: Saga no Gabai Bâchan
Author: Yoshichi Shimada
Published by Kansha Books (a division of Mahda Books), May 2011
Originally published by Tokuma Shoten Publishing Co., Ltd in Japan
264 pages
Language: Indonesian
Translator: Indah S. Pratidina
ISBN: 978-602-97196-2-8


Buku ini bercerita tentang masa kecil pelawak manzai, Yoshichi Shimada (the author himself). Shimada, yang bernama asli Akihiro Tokunaga, kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom pada Perang Dunia II. Shimada menyelipkan sedikit cerita tentang ini—juga tentang hubungannya dengan sang ayah yang menimbulkan tanda tanya. Ibunya bekerja dengan membuka usaha bar sehingga sering meninggalkan anak-anaknya di rumah. Hingga pada suatu waktu, adik sang ibu datang dari Saga dan menemani Akihiro sementara sang ibu bekerja. Ketika tiba waktunya bagi sang bibi untuk pulang ke kampung, Akihiro dan ibunya mengantar sang bibi hingga ke stasiun. Tapi, ternyata justru Akihiro yang diantar pergi ke Saga untuk tinggal bersama Nenek.


Di Saga, Akihiro jadi “satu tingkat lebih miskin” daripada di Hiroshima. Di bawah didikan sang Nenek, Akihiro belajar untuk hidup dalam keadaan serba kekurangan. Mulai dari berbelanja di supermarket sungai, memungut benda-benda jatuh, hingga berolahraga tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dilakukan oleh Akihiro. Walau keadaan benar-benar sulit, mereka selalu mencari cara untuk mengatasinya. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang-orang yang “miskin ceria”.


Kalau membaca sekilas ceritanya di mana sebagian besar tentang perjuangan hidup si tengah kemiskina, mungkin yang terbayang adalah cerita sedih tentang penderitaan. Namun, kisah dalam buku ini justru sangat ringan dan ceria. Buku ini tidak berfokus pada sulitnya hidup, tapi pada bagaimana mereka mencari cara untuk terus hidup. Cara-cara yang mereka gunakan seringkali tak terduga dan mengundang tawa, misalnyaberjalan sambil membawa magnet. Buku ini juga menceritakan tentang tolong-menolong, seperti tentang “kebaikan sejati” yang terjadi setiap tahun pada Akihiro.


Walaupun ringan, ada juga cerita yang membuat terharu. Seperti tentang penantian Akihiro setiap tahun agar sang ibu bisa melihatnya berlari di festival olahraga sekolah, sampai akhirnya penantian itu berbuah manis.


Di akhir buku, ada rangkuman beberapa wisdom dari sang Nenek. Kalau mau hidup “miskin ceria”, bisa mengikuti beberapa tips dan trik dari buku ini.

ブカシ, 2015630

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...