Tuesday, June 30, 2015

Saga no Gabai Bachan







Title: Nenek Hebat dari Saga
Original Title: Saga no Gabai Bâchan
Author: Yoshichi Shimada
Published by Kansha Books (a division of Mahda Books), May 2011
Originally published by Tokuma Shoten Publishing Co., Ltd in Japan
264 pages
Language: Indonesian
Translator: Indah S. Pratidina
ISBN: 978-602-97196-2-8


Buku ini bercerita tentang masa kecil pelawak manzai, Yoshichi Shimada (the author himself). Shimada, yang bernama asli Akihiro Tokunaga, kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom pada Perang Dunia II. Shimada menyelipkan sedikit cerita tentang ini—juga tentang hubungannya dengan sang ayah yang menimbulkan tanda tanya. Ibunya bekerja dengan membuka usaha bar sehingga sering meninggalkan anak-anaknya di rumah. Hingga pada suatu waktu, adik sang ibu datang dari Saga dan menemani Akihiro sementara sang ibu bekerja. Ketika tiba waktunya bagi sang bibi untuk pulang ke kampung, Akihiro dan ibunya mengantar sang bibi hingga ke stasiun. Tapi, ternyata justru Akihiro yang diantar pergi ke Saga untuk tinggal bersama Nenek.


Di Saga, Akihiro jadi “satu tingkat lebih miskin” daripada di Hiroshima. Di bawah didikan sang Nenek, Akihiro belajar untuk hidup dalam keadaan serba kekurangan. Mulai dari berbelanja di supermarket sungai, memungut benda-benda jatuh, hingga berolahraga tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dilakukan oleh Akihiro. Walau keadaan benar-benar sulit, mereka selalu mencari cara untuk mengatasinya. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang-orang yang “miskin ceria”.


Kalau membaca sekilas ceritanya di mana sebagian besar tentang perjuangan hidup si tengah kemiskina, mungkin yang terbayang adalah cerita sedih tentang penderitaan. Namun, kisah dalam buku ini justru sangat ringan dan ceria. Buku ini tidak berfokus pada sulitnya hidup, tapi pada bagaimana mereka mencari cara untuk terus hidup. Cara-cara yang mereka gunakan seringkali tak terduga dan mengundang tawa, misalnyaberjalan sambil membawa magnet. Buku ini juga menceritakan tentang tolong-menolong, seperti tentang “kebaikan sejati” yang terjadi setiap tahun pada Akihiro.


Walaupun ringan, ada juga cerita yang membuat terharu. Seperti tentang penantian Akihiro setiap tahun agar sang ibu bisa melihatnya berlari di festival olahraga sekolah, sampai akhirnya penantian itu berbuah manis.


Di akhir buku, ada rangkuman beberapa wisdom dari sang Nenek. Kalau mau hidup “miskin ceria”, bisa mengikuti beberapa tips dan trik dari buku ini.

ブカシ, 2015630

Monday, April 20, 2015

To Buy or Not To Buy: Ilana Tan's In a Blue Moon





Jadi. Ilana Tan baru saja merilis novel terbarunya, In A Blue Moon. Mm, penasaran sih, tapi pengalaman pertama saya membaca buku Ilana Tan (Summer In Seoul) kurang memuaskan. Setelah itu, saya belum pernah membaca karya-karya Ilana Tan yang lain. Padahal, saya punya boxset seri 4 Musim (jadi ingat, Summer In Seoul-nya ada di mana, ya?) dan Sunshine Becomes You. Untuk buku-buku yang sudah saya punya, pastinya ada keinginan dan rencana untuk membacanya. Tapi, untuk membeli buku yang baru, ehm, pikir-pikir dulu. Sebenarnya, saya adalah tipe yang—kalau berhubungan dengan buku—memiliki semboyan, “lebih baik membeli dan menyesal daripada tidak membeli dan tetap menyesal.” Hehe...

.

.

.

Bukan, semboyan saya adalah ‘lebih baik mati kebosanan daripada mati penasaran.” Maksudnya, lebih baik membaca buku sampai habis walaupun buku itu membuat saya bosan atau tidak suka daripada saya terus dihantui rasa penasaran akan buku tersebut.


ブカシ, 201546

Friday, January 30, 2015

ReadNQuote [#1]





“Setiap makhluk bernyawa berhak bermimpi.”



-Meiliana K. Tansri dalam Sembrani


ジャカルタ, 2015130

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...