Title: What I Talk About When I Talk
About Running
Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite
Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto
Author: Haruki Murakami
Publisher: Penerbit Bentang, May 2016
(first edition, April 2016)
Vi + 198 pages
Language: Indonesian
Translator: Ellnovianty Nine Sjarif
& A. Fitriyanti
ISBN: 978-602-291-086-2
What I
Talk About When I Talk About Running adalah sebuah
memoir yang ditulis oleh Haruki Murakami. Di sini, ia menulis sebagai seorang
penulis yang juga seorang pelari. Murakami tidak menulis buku ini sebagai
sebuah gerakan untuk mengajak orang-orang untuk berlari. Ia justru menulis
hubungan menulis dengan berlari.
Murakami menjadi penulis dimulai sejak
usia akhir 20-an. Sebelumnya, ia mengelola sebuah kelab jazz bersama istrinya.
Sejak menjadi penulis, ia menyadari ia butuh melakukan kegiatan yang bias
menjaga kebugaran tubuhnya—karena, berbeda dengan pandangan umum, menulis perlu
kondisi fisik yang prima. Memilih berlari pun bukan tanpa alasan. Berlari tidak
perlu teman atau lawan tanding. Juga tidak perlu tempat dan perlengkapan
khusus. Jadi, Murakami berpikir bahwa berlari lebih mudah dan praktis daripada
berenang atau bermain tenis, misalnya.
Semenjak memutuskan berlari, hampir
setiap hari Murakami berlari. Ia pun rutin mengikuti berbagai lomba marathon,
triathlon, dan bahkan pernah mengikuti ultramaraton (lari 100 km).
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,
dalam buku ini Murakami banyak mengaitkan menulis dengan berlari. Contohnya,
ketika ditanya hal terpenting apa yang harus dimiliki oleh seorang novelis, ia
menjawab bakat, fokus, dan daya tahan. Berbeda dengan bakat, fokus dan daya
tahan bisa diperoleh dan dipoles melalui latihan. Proses latihan ini mirip
dengan berlari untuk menguatkan otot dan membentuk fisik seorang pelari (hal.
89).
“Kebanyakan
pelari berlari bukan karena mereka ingin hidup lebih lama, melainkan ingin
hidup sepenuh-sepenuhnya. Jika kamu ingin menjalani hidup selama
bertahun-tahun, akan jauh lebih baik jika hidup dengan tujuan yang jelas dan
hidup sepenuhnya daripada setengah-setengah, dan aku percaya berlari membantumu
untuk melakukannya. Memacu dirimu sepenuhnya hingga mencapai batas akhir
kekuatanmu itulah esensi berlari, serta metafora untuk menjalani hidup—dan
bagiku, juga perumpamaan dalam menulis.” (hal. 93-94)

No comments:
Post a Comment