Title:
Nenek Hebat dari Saga
Original
Title: Saga no Gabai Bâchan
Author:
Yoshichi Shimada
Published
by Kansha Books (a division of Mahda Books), May 2011
Originally
published by Tokuma Shoten Publishing Co., Ltd in Japan
264
pages
Language:
Indonesian
Translator:
Indah S. Pratidina
ISBN:
978-602-97196-2-8
Buku ini bercerita tentang masa kecil
pelawak manzai, Yoshichi Shimada (the author himself). Shimada, yang bernama
asli Akihiro Tokunaga, kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom pada Perang
Dunia II. Shimada menyelipkan sedikit cerita tentang ini—juga tentang
hubungannya dengan sang ayah yang menimbulkan tanda tanya. Ibunya bekerja
dengan membuka usaha bar sehingga sering meninggalkan anak-anaknya di rumah.
Hingga pada suatu waktu, adik sang ibu datang dari Saga dan menemani Akihiro
sementara sang ibu bekerja. Ketika tiba waktunya bagi sang bibi untuk pulang ke
kampung, Akihiro dan ibunya mengantar sang bibi hingga ke stasiun. Tapi,
ternyata justru Akihiro yang diantar pergi ke Saga untuk tinggal bersama Nenek.
Di Saga, Akihiro jadi “satu tingkat lebih
miskin” daripada di Hiroshima. Di bawah didikan sang Nenek, Akihiro belajar
untuk hidup dalam keadaan serba kekurangan. Mulai dari berbelanja di
supermarket sungai, memungut benda-benda jatuh, hingga berolahraga tanpa
mengeluarkan uang sepeser pun dilakukan oleh Akihiro. Walau keadaan benar-benar
sulit, mereka selalu mencari cara untuk mengatasinya. Bagaimana pun juga,
mereka adalah orang-orang yang “miskin ceria”.
Kalau membaca sekilas ceritanya di mana
sebagian besar tentang perjuangan hidup si tengah kemiskina, mungkin yang
terbayang adalah cerita sedih tentang penderitaan. Namun, kisah dalam buku ini
justru sangat ringan dan ceria. Buku ini tidak berfokus pada sulitnya hidup,
tapi pada bagaimana mereka mencari cara untuk terus hidup. Cara-cara yang mereka
gunakan seringkali tak terduga dan mengundang tawa, misalnyaberjalan sambil
membawa magnet. Buku ini juga menceritakan tentang tolong-menolong, seperti
tentang “kebaikan sejati” yang terjadi setiap tahun pada Akihiro.
Walaupun ringan, ada juga cerita yang
membuat terharu. Seperti tentang penantian Akihiro setiap tahun agar sang ibu
bisa melihatnya berlari di festival olahraga sekolah, sampai akhirnya penantian
itu berbuah manis.
Di akhir buku, ada rangkuman beberapa
wisdom dari sang Nenek. Kalau mau hidup “miskin ceria”, bisa mengikuti beberapa
tips dan trik dari buku ini.
