Monday, November 26, 2012

100 JAM


100 Jam

Title: 100 Jam
Authors: Amalia Suryani & Andryan Suhardi
Published by PT Gramedia Pustaka Utama, August 2007
232 pages
Language: Indonesian
ISBN: 978-979-22-3138-0
Award/Nomination: Adikarya IKAPI (2008)


“Namanya Jasmine. Jasmine saja, tanpa nama belakang. Jasmine pernah bertanya kenapa namanya hanya terdiri atas satu kata. Sambil menjawabnya, Bu Meynar memetik sekuntum melati di kebun panti. Sebab dengan satu kata itu saja namamu sudah menyiratkan banyak makna termasuk sejarahnya. Jasmine tersenyum puas mendengarnya.” (hal. 11).

Itulah yang menjadi paragraf pembuka dalam bab perkenalan tokoh utama buku ini, Jasmine. Jasmine menjadi penghuni panti asuhan semenjak ia masih berusia satu hari. Ia ditinggalkan begitu saja di Stasiun Senen oleh ibunya karena ia lahir di luar hubungan pernikahan. Oleh Bu Meynar, pemilik sekaligus pengelola panti, ia diberi nama Jasmine karena pada saat ia tiba, melati di kebun panti sedang mekar-mekarnya.

Selain bahwa kelahirannya tidak diinginkan oleh ibunya, hal lain yang diketahui tentang bayi yang ditelantarkan itu adalah bahwa ia dilahirkan pada tanggal 29 Februari. Walaupun lahir di tanggal yang hanya muncul setiap empat tahun sekali, Jasmine merayakan ulang tahunnya setiap tahun dengan cara yang cukup aneh, yaitu dengan menambahkan tanggal 29 di belakang tanggal 28 Februari dan mencoret tanggal 1 Maret. Aneh, bukan? Maksud saya, bukankah tanggal 29 Februari itu menambah jumlah hari, kok ini malah menggantikan tanggal 1 Maret?

Tahun ini, tanggal 29 Februari akan terasa lebih bermakna lagi bagi Jasmine. Bukan sembarang ulang tahun yang akan ia rayakan, tapi ulang tahun yang ketujuh belas. Di usia itu, berarti Jasmine sudah bisa [dan harus] punya KTP. Usia tujuh belas tahun itu pulalah yang menjadi tiket Jasmine untuk bisa keluar dari panti. Namun, sebelum bisa keluar dari panti, Jasmine harus bisa mendapatkan pekerjaan karena kalau tidak, Bu Meynar tidak akan mengijinkan Jasmine keluar dari panti.

Maka, jadilah Jasmine pergi ke sana-sini untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya, ia nekad menjadi tukang ojek payung di depan mall. Akibat ‘pekerjaan’nya itu, Jasmine jadi sering terlambat pulang ke panti dan terpaksa berbohong kepada Bu Meynar. Ketika Bu Meynar mengetahui hal tersebut, ia menghukum Jasmine dengan menyuruhnya mengajar selama 100 jam di sebuah sekolah di kolong jalan tol.

Dengan rasa terpaksa, Jasmine menjalani hukuman tersebut. Ia memaksa mengajar dua kelas agar hukumannya cepat selesai. Namun, rasa terpaksa itu lama-lama hilang berganti dengan rasa senang untuk pergi mengajar. Bertemu dengan murid-muridnya, anak-anak kurang beruntung yang ternyata luar biasa menjadi salah satu penyebabnya. Namun, yang paling dinanti-nantikan Jasmine sebetulnya adalah bertemu dengan Arya, sesama pengajar, yang membuat hati Jasmine berbunga-bunga sejak kali pertama bertemu.

Novel ini menyajikan sebuah tema yang menarik, yaitu pendidikan bagi anak-anak tidak mampu. Namun, tema itu tersingkirkan oleh kisah-kisah yang meliputi karakter utamanya—percintaan dan persaingan untuk membuktikan siapa yang terbaik. Hingga akhir cerita, kisah tentang anak-anak tidak mampu dan sekolah kolong yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pendidikan yang cukup layak terasa hanya sebagai bumbu penyedap.

Alur ceritanya pun terasa lurus-lurus saja. Sejak awal, pembaca dapat menerka ke mana arah cerita mengalir dan bagaimana kisah akan berakhir. Tidak adanya elemen kejutan dalam cerita semakin membuat buku ini terasa amat datar. Jika diibaratkan sebagai perjalanan, buku ini bagaikan perjalanan rutin menuju sekolah atau kantor tanpa adanya perubahan yang berarti: ritual yang sama, rute yang sama, kemacetan yang sama di titik yang sama, pemandangan yang sama, dan sebagainya.

Karakter-karakternya pun gagal menempati tempat istimewa di perhatian saya. Jasmine, si tokoh utama, adalah seorang yang cerdas, berjiwa bebas, dan pemberani. Sayangnya, hal itu tak membuatnya menonjol dibandingkan beberapa tokoh dalam buku lain yang memiliki karakteristik yang serupa. Arya, sampai sekarang saya merasa tidak jelas apa kelebihannya sehingga ia harus menjadi tokoh utama pria. Kemudian, ada Tya, rival abadi dari Jasmine. Nah, Tya ini adalah kutub yang berlawanan dari Jasmine—ambisius, dingin, dan tidak bersahabat. Sedari awal, Tya digambarkan sedemikian rupa sehingga pembaca dipaksa memihak Jasmine sebagai jagoan wanita. Namun, menjelang akhir—melalui sebuah persaingan yang antiklimatis, menurut saya—Tya menunjukkan bahwa ternyata ia masih memiliki hati. Lalu bagaimana dengan karakter lain? Saya tidak begitu ingat—mereka mudah dilupakan.

Kemudian, kita lihat hubungan Jasmine dengan Arya. Pertemuan pertama mereka sudah membuat akhir kisah mereka menjadi jelas—sebuah hubungan yang melibatkan romansa, walaupun dijelaskan di akhir cerita kalau mereka tidak berpacaran. Dimulai dengan Jasmine yang merasakan ketertarikan sejak pandangan pertama, sampai teman-teman wanita Arya yang digambarkan sebagai figur-figur yang annoying. Marsha, yang entah memiliki hubungan apa dengan Arya digambarkan sebagai karakter yang clingy dan posesif, walaupun saya tidak begitu yakin dengan penggambaran itu karena saya melihat perilaku Marsha tidak sedemikian mengganggu sehingga ia harus pergi. Linda, sesama rekan relawan, disebut sebagai orang yang “sangat ramah, menarik, dan pasti pintar”. Sejak awal bertemu, Jasmine sudah merasa insecure dengan kehadiran Linda. Ia merasa Linda meremehkan kemampuannya. Menurut saya, ketidakyakinan Linda terhadap Jasmine yang mengajar dua kelas sekaligus masihlah wajar, toh Jasmine memang tidak memiliki pengalaman mengajar sebelumnya. Mungkin karena penggambaran karakternya itu atau karena ia kurang percaya pada kemampuan Jasmine mengajar dua kelas sekaligus, Linda tidak pernah kedengaran lagi hingga akhir cerita. Dengan peran yang penting sebagai relawan di sekolah kolong, ia menghilang bagaikan asap. Semua ini seolah mengesampingkan fakta bahwa peran relawan di sebuah kegiatan sosial amatlah penting. Seolah-olah, sekolah itu akan dapat berjalan dengan adanya Jasmine dan Arya semata (dan herannya, buku ini memang mengisahkan seperti itu!). Selain itu, dengan tersingkirnya Marsha dan Linda, hal ini seolah menunjukkan bahwa hanya Jasmine-lah satu-satunya perempuan yang boleh dekat-dekat dengan Arya.

Lalu, bagaimana hubungan Jasmine dengan yang lainnya? Yang pasti, Jasmine adalah seseorang yang mudah berteman dan mengambil hati orang-orang yang ditemuinya. Tak perlu waktu lama hingga murid-muridnya menyukai dirinya. Tak perlu waktu lama juga untuk membuat salah satu murid sekolah kolong—yang sebaya dengannya, by the way—untuk jatuh cinta kepadanya. Namun, Arya tidak perlu khawatir. Toh saingan cintanya itu hanyalah seorang anak jalanan yang bersekolah di sekolah alternatif. Lagipula, Bagas, anak itu, juga sadar diri. Ia tidak mau mengejar-ngejar Jasmine mengingat siapa dirinya dan mengingat dengan siapa ia bersaing—Arya si mahasiswa. See? Jasmine and Arya are meant to be together! *sarcasm*

Dengan banyaknya hal-hal klise dan mudah ditebak seperti itu, saya bersyukur di buku ini terselip kisah tentang Dul dan ayahnya. Bapak dan anak ini rupanya tidak asing dengan kekerasan dan kriminalitas. Hubungannya keduanya bukanlah partners in crime—atau family in crime?—tetapi bagaikan bos penjahat dan anak buahnya. Si bapak yang terlibat obat-obatan terlarang akhirnya ditangkap polisi sementara Dul berlari sambil berteriak bahwa ia sudah memaafkan ayah yang telah menjerumuskannya ke lembah hitam. Yang istimewa dari secuil kisah Dul ini adalah adegan kilas balik yang menyentuh yang mengambarkan hubungan Dul dan sang ayah ketika ia masih kecil, ketika mereka berdua bermain ‘layangan’.

Secara keseluruhan, saya tidak menikmati buku ini. Segalanya terkesan disederhanakan dan tidak menarik. Walapun demikian, bagi para penggemar teenlit yang ingin membaca buku yang dibumbui dengan tema yang masih jarang diangkat, mungkin novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.


ボゴール、20121116

No comments:

Post a Comment

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...