Title:
Madre
Author:
Dewi ‘Dee’ Lestari
Published
by Penerbit Bentang, August 2011
(first
edition, June 2011)
162
pages
Language:
Indonesian
ISBN:
978-602-8811-49-1
Tidak
terasa, sejak buku pertamanya, Supernova,
diterbitkan pada tahun 2001 hingga buku terakhirnya ini, Dewi Lestari telah
sepuluh tahun berkecimpung di dunia literatur Indonesia. Selama sepuluh tahun
itu pula, Dee berhasil membuktikan dirinya sebagai salah seorang penulis
terbaik Indonesia. Dalam rentang waktu sepuluh tahun (2001-2011), ia telah
menghasilkan sejumlah karya yang semuanya menjadi bestseller. Berbagai penghargaan telah dianugerahkan kepada Dee atas
karya-karyanya itu. Akan tetapi, selama sepuluh tahun itu pula saya kebal dari
pesona tulisan Dee. Setelah Madre
diterbitkan, barulah saya tergoda mencicipi karyanya.
Madre adalah buku yang berisi kumpulan cerita yang ditulis
Dee selama kurun waktu lima tahun (2006-2011). Karya-karya yang dimuat dalam
buku ini terdiri dari berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara
ibu dan janinnya, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan
sejati—seluruhnya berjumlah 13 karya. Beberapa karya pernah diterbitkan di
media massa, beberapa pernah dimuat di blog pribadi sang penulis, dan ada juga
yang baru pertama dipublikasikan melalui buku ini.
Selain
menjadi judul buku, Madre adalah
cerita pertama yang disajikan dalam kumpulan cerita ini. Berkisah tentang seorang
pria berusia pertengahan 20 tahun, Tansen, yang mendadak menjadi seperempat
Tionghoa dan menerima warisan istimewa dari kakek yang tidak pernah dikenalnya.
Benda yang diwariskan itu bukanlah uang atau barang-barang yang lazim
diwariskan kepada seseorang, melainkan adonan biang untuk membuat roti, yang
dipanggil dengan nama Madre. Madre bukanlah sembarang adonan biang. Selama 70
tahun Tan de Bakker berdiri, Madre-lah yang menjadi jantung toko itu. Toko yang
sudah ‘tidur’ selama beberapa tahun itu akhirnya bisa bangun lagi setelah Madre
diwariskan kepada Tansen. Namun, persoalan yang dihadapi toko itu belum
selesai. Dengan pekerja yang mayoritas sudah jompo, kebangkitan Tan de Bakker
tidak mungkin bertahan lama. Hingga, muncullah pilihan baru. Tan de Bakker
harus berubah!
Madre lebih dari sekedar kisah tentang tukang roti dan
adonannya. Ia bercerita tentang sejarah dan masa depan toko dan manusia-manusia
yang terlibat di dalamnya, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi,
dan tentang perlunya melakukan perubahan agar tidak tergerus jaman.
Dalam
karyanya yang lain, Rimba Amniotik (2009),
Dee menyajikan dialog antara ibu dan janinnya. Ada sebuah paragraf yang menurut
saya paling menarik sekaligus membingungkan:
“Sembilan bulan ini mereka bilang
aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang
mengandungku. Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang
berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk
dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.” (hal. 75).
Dalam
perkenalannya, Dee menyatakan bahwa antologi ini adalah hasil fusi dari
pertanyaan-pertanyaan dan lamunan-lamunan yang kemudian menghasilkan berbagai
perenungan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Namun, dari perenungan itu,
tidak semuanya berujung pada jawaban, ada kalanya berujung pada pertanyaan
baru. Pertanyaan saya tentang hubungan antara ibu dan anak ini adalah salah
satu pertanyaan baru yang muncul setelah membaca buku ini. Namun, saya merasa
sebagian besar pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul di benak saya dipicu oleh
cerita-cerita yang berhubungan dengan reinkarnasi—sebuah konsep yang saya
pahami secara sederhana sebagai kelahiran kembali.
Di
awal tulisan ini, saya telah mengakui bahwa ini adalah buku perkenalan saya
dengan karya Dee. Sebelumnya, saya hanya bertanya-tanya mengapa karya-karya Dee
begitu digemari. Setelah membaca buku ini, saya melihat sendiri buktinya.
Bahkan, merasakannya. Dalam kisah Semangkuk
Acar untuk Cinta dan Tuhan, pertanyaan yang diajukan adalah tentang apa itu
Tuhan dan apa itu cinta. Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, Dee, melalui
karakter yang ditulisnya mengajak si penanya untuk mengupas acar bawang selapis
demi selapis. Maka, ketika dihadapkan kepada pertanyaan, “apa sebenarnya yang
membuat karya Dee begitu digemari?”, saya akan meminjam metode yang sama:
membuka helai demi helai karyanya. Karena, memahami pesona seorang penulis
adalah dengan membaca setiap halaman yang ia tulis. Dee mampu menyajikan
kisah-kisah yang manis dengan kepiawaiannya mengolah kata-kata. Narasinya
terasa segar dan cerdas. Buku ini cukup tipis, dan mengingat cepatnya saya
membacanya, juga terkesan ringan. Padahal, buku ini tidak hanya memiliki
jalinan kata yang mempesona, tetapi juga sarat makna.
Ada
kabar gembira bagi penggemar buku ini. Proses produksi film Madre telah dimulai sejak Oktober 2012.
Rencananya, film yang diproduksi oleh Mizan Productions ini akan dirilis pada
awal 2013. Film ini hanya akan mengangkat kisah Madre ke layar lebar, tidak semua kisah yang ada dalam buku Madre akan difilmkan. Beberapa daftar
pemain fim Madre antara lain Vino G.
Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, dan Titi Qadarsih. Sedangkan posisi sutradara
dipegang oleh Benni Setiawan yang pernah menyutradarai 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta. Selain penasaran melihat Vino G. Bastian
sebagai Tansen yang berambut gimbal dan Didi Petet sebagai Pak Hadi yang
‘mulutnya perlu ditatar’, saya ingin melihat roti-roti istimewa yang terbuat
dari Madre diwujudkan jadi nyata. Nyam!
ボゴール、2012年11月8日

No comments:
Post a Comment