Friday, November 9, 2012

Madre




Title: Madre
Author: Dewi ‘Dee’ Lestari
Published by Penerbit Bentang, August 2011
(first edition, June 2011)
162 pages
Language: Indonesian
ISBN: 978-602-8811-49-1


Tidak terasa, sejak buku pertamanya, Supernova, diterbitkan pada tahun 2001 hingga buku terakhirnya ini, Dewi Lestari telah sepuluh tahun berkecimpung di dunia literatur Indonesia. Selama sepuluh tahun itu pula, Dee berhasil membuktikan dirinya sebagai salah seorang penulis terbaik Indonesia. Dalam rentang waktu sepuluh tahun (2001-2011), ia telah menghasilkan sejumlah karya yang semuanya menjadi bestseller. Berbagai penghargaan telah dianugerahkan kepada Dee atas karya-karyanya itu. Akan tetapi, selama sepuluh tahun itu pula saya kebal dari pesona tulisan Dee. Setelah Madre diterbitkan, barulah saya tergoda mencicipi karyanya.

Madre adalah buku yang berisi kumpulan cerita yang ditulis Dee selama kurun waktu lima tahun (2006-2011). Karya-karya yang dimuat dalam buku ini terdiri dari berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati—seluruhnya berjumlah 13 karya. Beberapa karya pernah diterbitkan di media massa, beberapa pernah dimuat di blog pribadi sang penulis, dan ada juga yang baru pertama dipublikasikan melalui buku ini.

Selain menjadi judul buku, Madre adalah cerita pertama yang disajikan dalam kumpulan cerita ini. Berkisah tentang seorang pria berusia pertengahan 20 tahun, Tansen, yang mendadak menjadi seperempat Tionghoa dan menerima warisan istimewa dari kakek yang tidak pernah dikenalnya. Benda yang diwariskan itu bukanlah uang atau barang-barang yang lazim diwariskan kepada seseorang, melainkan adonan biang untuk membuat roti, yang dipanggil dengan nama Madre. Madre bukanlah sembarang adonan biang. Selama 70 tahun Tan de Bakker berdiri, Madre-lah yang menjadi jantung toko itu. Toko yang sudah ‘tidur’ selama beberapa tahun itu akhirnya bisa bangun lagi setelah Madre diwariskan kepada Tansen. Namun, persoalan yang dihadapi toko itu belum selesai. Dengan pekerja yang mayoritas sudah jompo, kebangkitan Tan de Bakker tidak mungkin bertahan lama. Hingga, muncullah pilihan baru. Tan de Bakker harus berubah!

Madre lebih dari sekedar kisah tentang tukang roti dan adonannya. Ia bercerita tentang sejarah dan masa depan toko dan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi, dan tentang perlunya melakukan perubahan agar tidak tergerus jaman.

Dalam karyanya yang lain, Rimba Amniotik (2009), Dee menyajikan dialog antara ibu dan janinnya. Ada sebuah paragraf yang menurut saya paling menarik sekaligus membingungkan:

“Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.” (hal. 75).

Dalam perkenalannya, Dee menyatakan bahwa antologi ini adalah hasil fusi dari pertanyaan-pertanyaan dan lamunan-lamunan yang kemudian menghasilkan berbagai perenungan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Namun, dari perenungan itu, tidak semuanya berujung pada jawaban, ada kalanya berujung pada pertanyaan baru. Pertanyaan saya tentang hubungan antara ibu dan anak ini adalah salah satu pertanyaan baru yang muncul setelah membaca buku ini. Namun, saya merasa sebagian besar pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul di benak saya dipicu oleh cerita-cerita yang berhubungan dengan reinkarnasi—sebuah konsep yang saya pahami secara sederhana sebagai kelahiran kembali.

Di awal tulisan ini, saya telah mengakui bahwa ini adalah buku perkenalan saya dengan karya Dee. Sebelumnya, saya hanya bertanya-tanya mengapa karya-karya Dee begitu digemari. Setelah membaca buku ini, saya melihat sendiri buktinya. Bahkan, merasakannya. Dalam kisah Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, pertanyaan yang diajukan adalah tentang apa itu Tuhan dan apa itu cinta. Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, Dee, melalui karakter yang ditulisnya mengajak si penanya untuk mengupas acar bawang selapis demi selapis. Maka, ketika dihadapkan kepada pertanyaan, “apa sebenarnya yang membuat karya Dee begitu digemari?”, saya akan meminjam metode yang sama: membuka helai demi helai karyanya. Karena, memahami pesona seorang penulis adalah dengan membaca setiap halaman yang ia tulis. Dee mampu menyajikan kisah-kisah yang manis dengan kepiawaiannya mengolah kata-kata. Narasinya terasa segar dan cerdas. Buku ini cukup tipis, dan mengingat cepatnya saya membacanya, juga terkesan ringan. Padahal, buku ini tidak hanya memiliki jalinan kata yang mempesona, tetapi juga sarat makna.

Ada kabar gembira bagi penggemar buku ini. Proses produksi film Madre telah dimulai sejak Oktober 2012. Rencananya, film yang diproduksi oleh Mizan Productions ini akan dirilis pada awal 2013. Film ini hanya akan mengangkat kisah Madre ke layar lebar, tidak semua kisah yang ada dalam buku Madre akan difilmkan. Beberapa daftar pemain fim Madre antara lain Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, dan Titi Qadarsih. Sedangkan posisi sutradara dipegang oleh Benni Setiawan yang pernah menyutradarai 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta. Selain penasaran melihat Vino G. Bastian sebagai Tansen yang berambut gimbal dan Didi Petet sebagai Pak Hadi yang ‘mulutnya perlu ditatar’, saya ingin melihat roti-roti istimewa yang terbuat dari Madre diwujudkan jadi nyata. Nyam!


ボゴール、2012118

No comments:

Post a Comment

What I Talk About When I Talk About Running

Title: What I Talk About When I Talk About Running Original Title: Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto ...